RBNZ Tidak Akan Menghapus Stimulus Dalam Waktu Dekat

Hasil pertemuan kebijakan dari para pejabat Reserve Bank of New Zealand mengisyaratkan untuk tidak terburu-buru menghapus program stimulus moneter, sekaligus mengatakan bahwa prospek pertumbuhan tetap tidak pasti karena ekonomi Selandia Baru mulai pulih secara bertahap dari pandemi Covid-19.

Para anggota Reserve Bank’s monetary policy committee telah mempertahankan pengaturan stimulasi saat ini, sekaligus menahan suku bunga di 0.25% serta tetap mempertahankan program Large Scale Asset Purchase senilai NZ$ 100 milliar ($ 71 milliar), dan ini menegaskan kembali bahwa pihaknya siap untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan.

Mereka menyatakan bahwa pihak komite telah setuju dan sejalan dengan kerangka penyesalan yang paling sedikit, yang mana pihaknya tidak akan menghapus stimulus moneter sampai merasa yakin bahwa laju pertumbuhan secara berkelanjutan mampu mencapai inflasi harga konsumen serta target pasar tenaga kerja, mengingat kondisi saat ini yang dilanda ketidakpastian tetap tinggi, sehingga untuk meraih kepercayaan maka dibutuhkan banyak waktu dan kesabaran.

Pembuat kebijakan menilai apakah kenaikan inflasi yang diharapkan tahun ini akan dipertahankan, dan apakah pemulihan bertahap pasar tenaga kerja akan dirugikan oleh kemungkinan terjadinya resesi double-dip, sementara itu pemerintah Selandia Baru meminta pihak RBNZ untuk mempertimbangkan dampak keputusannya terhadap pasar perumahan Selandia Baru, dimana lonjakan harga telah meningkatkan kekhawatiran mengenai meluasnya ketidaksetaraan sosial.

Terkait akan hal ini Kepala Ekonom di ANZ Bank New Zealand, Sharon Zollner mengatakan bahwa ekonomi Selandia Baru telah berkembang secara luas yang sejalan dengan ekspektasi RBNZ dan masih tersisa waktu untuk melihat bagaimana perkembangan terbaru telah mempengaruhi banyak hal, namun pihak RBNZ tidak sedang berada di bawah tekanan untuk membuat keputusan berani mengenai seberapa tepat segala sesuatunya akan mengalami perubahan.

Selain itu bank sentral Selandia Baru mengatakan prospek pertumbuhan tetap sama dengan skenario yang disajikan dalam pernyataan terakhirnya di bulan Februari, dan disebutkan bahwa inflasi kemungkinan akan melebihi target 2% dalam suatu periode, namun kemungkinan ini hanya bersifat sementara.

Disebutkan bahwa prospek ini tetap sangat tidak pasti, yang sebagian besar ditentukan oleh pembatasan terkait kesehatan serta sektor bisnis dan kepercayaan konsumen, yang mana komite setuju bahwa inflasi jangka menengah dan lapangan kerja kemungkinan akan tetap di bawah target jika program stimulus moneter tidak belanjut.

Ekonomi Selandia Baru telah menikmati pemulihan berbentuk V dari resesi yang disebabkan pandemi danserta ditambah pasar perumahan sedang booming, yang mengalihkan perhatian ke RBNZ yang kemungkinan mulai menghapus stimulus, dimana tingkat pengangguran turun menjadi 4.9% di kuartal keempat serta perkiraan dari bank sentral bahwa inflasi akan meningkat menjadi 2.5% di bulan Juni, yang lebih tinggi dari level targetnya.

Akan tetapi secara tidak terduga ekonomi berkontraksi 1% dalam tiga tahun terakhir di 2020 lalu, dan ekonom melihat potensi pertumbuhan yang sedikit atau bahkan tidak ada pertumbuhna dalam tiga bulan hingga Maret lalu, yang meningkatkan prospek terjadinya resesi double-dip.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa RBNZ akan secara eksplisit mulai mengurangi pembelian obligasi akhir tahun ini, dan beberapa ekonom telah memproyeksikan kenaikan suku bunga pada 2022, namun sejumlah kalangan analis lainnya melihat bank sentral menahan untuk jangka waktu yang lama setelah pemerintah mengumumkan serangkaian tindakan di bulan lalu, untuk mendinginkan pasar perumahan, termasuk penyesuaian pajak untuk mengekang permintaan investor.

RBNZ mengatakan sejauh mana dampak peredam dari kebijakan perumahan baru pemerintah terhadap harga rumah, dan karenanya inflasi dan lapangan kerja, akan “membutuhkan waktu untuk diamati”. Pada akhir Februari lalu pemerintah Selandia Baru telah menginstrusikan kepada RBNZ untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor perumahan saat membuat keputusan kebijakan moneter dan keuangan.

Terkait akan hal ini Menteri Keuangan Grant Robertson mengatakan bahwa secara khusus komite kebijakan moneter perlu untuk menjelaskan secara teratur mengenai bagaimana dirinya berupaya menilai dampak keputusannya terhadap sektor perumahan.(WD)

Related posts