Retailer Australia Menghadapi Penurunan Konsumsi

Para pelaku ritel di Australia tengah menghadapi penurunan laju konsumsi seiring wilayah Victoria sebagai negara bagian terbesar kedua di Australia tengah menerapkan kebijakan lockdown untuk meredam pandemi virus corona, serta ditambah dengan data yang menunjukkan volume penjualan mengalami penurunan terbesar dalam dua dekade pada kuartal kedua.

Australian Bureau of Statistics (ABS) merilis penjualan ritel yang disesuaikan dengan inflasi dilaporkan turun 3.4% pada kuartal kedua lalu, yang menjadi penurunan paling tajam sejak diperkenalkannya pajak barang dan jasa di tahun 2000 silam, sementara analis memperkirakan penurunan 3.2% di kuartal tersebut.

Penurunan yang lebih besar dari perkiraan menunjukkan belanja konsumen akan menjadi hambatan pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal Juni, yang mana penurunan ini didorong oleh penurunan kafe dan restoran sebesar 29.1%, serta penurunan penjualan pakaian, alas kaki dan aksesori pribadi sebesar 22% dan ditambah kerugian dalam penjualan ritel produk makanan.

Volume penjualan yang mengalami penurunan sangat kontras dengan perolehan data yang sama di bulan Juni yang melonjak sebesar 2.7% di penjualan bulanan, menyusul kenaikan di bulan Mei sebesar 16.9%, seiring toko-toko, restoran dan pub yang sepenuhnya dibuka kembali di sebagian besar wilayah Australia.

Prospek yang suram tersebut menurut para ekonom diakibatkan oleh gelombang kedua dari infeksi virus corona di negara bagian Victoria, dengan data pengeluaran mingguan oleh bank-bank besar negara itu sudah menunjukkan tanda-tanda moderasi.

Sementara itu data lainnya menyebutkan bahwa para eksportir Australia diuntungkan oleh permintaan bijih besi dan sumber daya lainnya dari Cina, di saat laju impor justru mengalami hambatan akibat kebijakan lockdown.

Data perdagangan negara tersebut menunjukkan surplus perdagangan yang meningkat menjadi A$8.2 milliar di bulan Juni lalu, mencatat total surplus perdagangan di periode kuartal kedua menjadi sebesar A$23.4 milliar.

Laju ekspor naik sebesar 3% di bulan Juni seiring dukungan oleh harga bijih besi dan emas yang naik tajam, sehingga meningkatkan pendapatan para penambang dan penerimaan pajak pemerintah, sekaligus mencatat laju ekspor ke Cina yang mencapai rekor tertinggi dalam sejarah sebesar A$14.6 milliar di bulan Juni, sehingga mencatat A$151 milliar dalam periode 12 bulan.(WD)

Related posts