Header Ads

Reuter’s Poll : Ambang Batas PCE AS Di 2.8%

Jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah ekonom menunjukkan bahwa Core PCE sebagai ukuran inflasi yang lebih disukai oleh Federal Reserve harus mampu mencapai level tertingginya di 2.8%, yang akan menekan para pembuat kebijakan AS tidak nyaman dengan pandangan dovish mereka.

Selain itu hasil jajak pendapat tersebut juga menyarankan kepada bank sentral untuk mentolerir suku bunga saat ini setidaknya selama tiga bulan kedepan sebelum melakukan perubahan kebijakan menjadi lebih ketat.

Data sebelumnya yang menunjukkan harga konsumen AS di bulan April yang naik secara tidak terduga ke level tertinggi dalam hampir 12 tahun, telah mendorong naik imbal hasil Treasury AS sekaligus membenamkan bursa saham, menyusul naiknya pertaruhan terhadap pengetatan kebiajakan.

Sebagai ukuran laju inflasi yang disukai oleh The Fed untuk menentukan target fleksibel rata-rata 2%, indeks personal consumption expenditures (PCE) inti, meningkat 1.8% dalam 12 bulan hingga Maret lalu, yang mencatat pertumbuhan terbesarnya sejak Februari 2020 lalu.

Sebanyak 41 ekonom yang disurvei oleh Reuters menilai bahwa pengukur inflasi tersebut harus naik hingga 2.8% untuk menciptakan “ketidaknyaman” dari pejabat The Fed, untuk memulai membicarakan wacana pengetatan kebijakan moneter selanjutnya.

James Knightley yang menjabat sebagai kepala ekonomi internasional di ING mengatakan bahwa dirinya telah menempatkan kisaran 2.8% sebagai target Core PCE, setidaknya di atas 2.5%, namun demikian hal ini lebih mengenai seberapa tampilannya berkelanjutan dibandingkan angka bulanan di kisaran tertentu, dan harus dilihat konteksnya mengenai apa yang terjadi pada laju pertumbuhan dan pekerjaan, dan jika Core PCE berada di atas 2.5% di awal 2022 mendatang maka The Fed harus mempertimbangkan secara serius untuk pengurangan QE yang lebih cepat dengan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun ini.

Konsensus jajak pendapat menunjukkan indeks harga PCE inti akan turun dan rata-rata antara 2,0% dan 2,2% dari kuartal berikutnya hingga akhir 2022 setelah mencapai 2,4% pada kuartal ini, yang mana pandangan ini sebagian besar tidak berubah dari bulan April lalu.

Sementara itu salah seorang ekonom di CitiGroup, Veronica Clark mengatakan bahwa The Fed kemungkinan akan terus meremehkan kekuatan yang dipimpin oleh kenaikan harga sementara, tetapi data selama beberapa bulan mendatang akan menjadi penting untuk mengukur persistensi kenaikan harga yang kuat, namun seiring data inflasi bulan April yang tengah disorot, maka ada ketidakpastian substansial di sekitar jalur inflasi dan semua data ekonomi dalam beberapa bulan kedepan.

Pada pekan lalu Wakil Ketua The Fed Richard Clarida mengatakan bahwa laporan ketenagakerjaan yang lemah telah membuat laju pemulihan pekerjaan menjadi tidak pasti, sehingga kejutan yang datang dari lonjakan inflasi yang lebih kuat menjadikan kombinasi keduanya menjadi “keseimbangan” yang tidak akan merubah kebijakan moneter menjadi lebih ketat dalam waktu dekat.

Ketika ditanya mengenai kapan The Fed akan mulai mengurangi pembelian aset bulanannya senilai $ 120 milliar, sebanyak 31 ekonom dari 51 orang mengatakan bahwa hal ini akan terjadi di kuartal pertama 2022 mendatang, sementara 13 responden mengatakan bahwa ini akan terjadi pada periode kuartal keempat tahun ini.

Sejalan dengan pandangan ini Ian Shepherdson selaku kepala ekonom di Pantheon Macroeconomics mengatakan bahwa The Fed tidak akan merasa panik setelah adanya laporan CPI yang mengejutkan, jadi pasar dapat berharap untuk mendengar lebih banyak lagi mengenai tekanan “bottleneck inflation” selama beberapa pekan kedepan.

Namun Shepherdson mengatakan juga bahwa laporan ini berarti bahwa bagian pertama dari inflasi yang lebih tinggi merupakan sesuatu yang nyata dan bukan lagi perkiraan, sehingga kenaikan yang lebih besar akan berlanjut, sehingga pasar akan mencari petunjuk adanya pengurangan laju inflasi di akhir tahun ini.(WD)

Related posts