Header Ads

Reuter’s Poll : BI Diperkirakan Akan Menahan Suku Bunga

Sebuah jajak pendapat dari Reuters terhadap sejumlah ekonom menunjukkan sebuah perkiraan bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah di hari Selasa besok dan akan terfokus terhadap langkah dukungan untuk negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini dengan melakukan kebijakan pelonggaran kuantitatif.

Dari sebanyak 27 analis dalam jajak pendapat tersebut, dua diantaranya memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan tingkat 7-day reverse repurchase rate di kisaran 4.00% yang telah diterapkan sejak Juli lalu, dan mengatakan bahwa BI akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

Sebelumnya BI telah memangkas suku bunganya sebanyak empat kali di tahun ini menjadi total 100 basis poin, melakukan pembelian obligasi pemeritah serta melonggarkan aturan pinjaman guna mendukung ekonomi Indonesia yang dilanda hantaman pandemi virus corona.

Analis ANZ mengatakan kurs kemungkinan akan dipertahankan tidak berubah dikarenakan mata uang Rupiah dinilai telah cukup lemah, meskipun masih menunjukkan sedikit penguatan dalam beberapa hari terakhir.

Dalam sebuah catatannya analis dari ANZ juga menuliskan bahwa keputusan untuk menahan suku bunga tidak berubah, bukan berarti bahwa bank sentral Indonesia telah menjauh dari akomodasi moneternya, dan sebaliknya justru hal tersebut telah mengubah komposisinya dari kebijakan penurunan suku bunga menjadi kebijakan pelonggaran kuantitatif.

Terkait akan hal ini Perry Warjiyo selaku Gubernur BI mengatakan bahwa dalam dua pertemuan kebijakan terakhir, pelonggaran kuantitatif lebih disukai untuk meningkatkan ekonomi, dengan tingkat suku bunga yang stabil guna mempertahankan selisih yang lebih menarik bagi portofolio investor.

Saat ini nilai tukar Rupiah berada di bawah tekanan setelah para analis menyuarakan keprihatinan atas usulan amandemen undang-undang bank sentral yang dapat merusak independensi BI dan memperpanjang operasi moneterisasi utangnya, yang saat ini hanya diperbolehkan sebagai tanggapan terhadap pandemi.

Namun demikian nilai tukar mata uang tersebut menguat saat RUU Cipta Kerja disahkan di pekan lalu, yang menurut para ekonom dapat memperbaiki iklim investasi nasional, meskipun UU tersebut telah memicu gelombang protes dalam skala nasional.

Sejumlah analis menilai bahwa masih akan ada pemotongan yang akan terjadi, seiring inflasi masih di bawah target BI di kisaran 2% hingga 4%, dan ekonomi Indonesia masih membutuhkan dukungan, menyusul rilisan data PDB Indonesia yang mengalami penyusutan untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade terakhir di tahun ini karena pandemi Covid-19, yang mana jauh lebih rendah dari pertumbuhan sebesar 5% pada tahun 2019 lalu.(WD)

Related posts