Reuter’s Poll : BoJ Akan Terfokus Pembelian Aset

Hasil jajak pendapat Reuters mengemukakan bahwa Bank of Japan kemungkinan akan lebih fokus pada langkah-langkah untuk melanjutkan program pembelian aset berisiko, seperti ETF yang dinilai lebih fleksibel saat ekonomi tengah berada di bawah tekanan yang meningkat dari lonjakan infeksi Covid-19.

Dalam survei terhadap sejumlah analis tersebut termasuk juga revisi proyeksi ekonomi Jepang di tahun fiskal yang akan berakhir pada bulan Maret mendatang, di tengah ekspektasi kebangkitan kasus infkesi virus corona yang akan menghambat laju pertumbuhan.

Dengan kebijakan pembatasan untuk meredam pandemi maka kegiatan ekonomi Jepang berpotensi terhenti dan kemungkinan Bank of Japan harus mencari cara yang lebih efektif untuk mencapai target inflasi di 2%, karena lonjakan kasus infeksi virus corona yang terjadi baru-baru ini telah memaksa bank sentral untuk mempertahankan stimulus dalam jumlah besar untuk waktu yang lebih lama.

Pada bulan lalu BoJ mengatakan akan melakukan pemeriksaan kontrol kurva imbal hasil serta mengevaluasi kebijakan pelonggaram kuantitatif untuk mencari cara guna mencapai upaya yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kepala ekonom di Totan Research Izuru Kato mengatakan bahwa bank sentral Jepang mungkin berpikir untuk memperbaiki distorsi yang disebabkan oleh kebijakannya yang dapat menjadi kendala dalam mempertahankan kerangka kerja mereka saat ini di bawah kepemimpinan Gubernur Haruhiko Kuroda yang masa jabatannya akan berakhir di awal 2023 mendatang.

Saat ditanya mengenai langkah apa yang akan diambil BoJ saat mengumumkan hasil evaluasi mereka pada Maret mendatang, sebanyak 31 ekonom mengatakan bahwa bank sentral tersebut akan membuat ETF dan pembelian J-REIT menjadi lebih fleksibel.

Dalam hal ini pihak bank sentral dinilai akan membahas cara-cara untuk mengurangi program kontroversial yang membeli sejumlah besar dana yang diperdagangkan di bursa tanpa memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kemunduran penuh dari kebijakan ultra-longgar.

Pasca Jepang yang memperluas kondisi darurat untuk tujuh prefektur di wilayah Tokyo pada awal bulan ini, banyak analis yang memperkirakan langkah-langkah terbaru akan mengurangi kerusakan ekonomi dibandingkan kebijakan pembatasan yang lebih ketat dan lebih luas saat diberlakukan pada bulan April dan Mei tahun lalu.

Analis memperkirakan ekonomi Jepang akan mengalami kontraksi hingga 2.4% selama periode Januari hingga Maret dan memperkirakan terjadi peningkatan sebesar 2.1% di bulan Desember.

Untuk tahun fiskal saat ini yang berakhir pada Maret, ekonomi diperkirakan menyusut 5.5%, jajak pendapat menemukan, sedikit lebih lemah dari kontraksi 5.3% yang diproyeksikan bulan lalu dan perekonomian diperkirakan akan tumbuh 3.3% di tahun fiskal yang akan dimulai pada bulan April mendatang, yang dimulai dengan pertumbuhan sebesar 4.1% pada periode April hingga Juni mendatang.

Disebutkan pula bahwa harga konsumen inti, yang mengecualikan harga makanan segar yang tidak stabil, akan mengalami penurunan 0.5% di tahun fiskal ini, sebelum mencatat kenaikan 0.2% di tahun fiskal berikutnya.

Sementara itu pendapat ekonom terpecah terkait ke arah mana BoJ akan bergerak untuk mengubah kebijakannya, yang mana 21 dari 39 analis memperkirakan bank sentral akan menurunkan stimulus, sedangkan 18 analis lainnya mengatakan BoJ akan meningkatkan dukungan moneter.

Sebuah sumber mengatakan bahwa Bank of Japan kemungkinan akan merevisi perkiraan ekonomi di tahun fiskal mendatang dan menahan perluasan stimulus pada pertemuan kebijakan dua hari tanggal 20 dan 21 Januari.(WD)

Related posts