Reuter’s Poll : Ekspor Cina Masih Tumbuh Lebih Cepat

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters terhadap sejumlah ekonom menunjukkan bahwa ekspor Cina kemungkinan besar akan melanjutkan laju pertumbuhan cepatnya di bulan Mei, seiring mitra dagang utama mereka mulai bangkit dari laju penurunan sebelumnya yang diakibatkan oleh pandemi, selain itu nilai impor sepertinya akan didukung oleh lonjakan biaya bahan baku.

Meskipun efek dasar statistik dari penurunan tajam yang terlihat setahun lalu terlihat menjaga pertumbuhan perdagangan tetap tinggi, namun permintaan riil dinilai juga telah membuat pemulihan yang signifikan.

Hasil survei terhadap 21 ekonom menunjukkan bahwa laju ekspor diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 32.1% di bulan Mei dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana hasil ini sebagian besar sejalan dengan kenaikan 32.3% yang tercatat pada bulan April sebelumnya.

Sementara untuk impor kemungkinan besar akan mencatat kenaikan sebesar 51.5% di bulan Mei dari tahun lalu, yang mana angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan sebesar 43.1% di bulan April sebelumnya, dimana para analis mengaitkan lonjakan tersebut dengan kenaikan harga komoditas, sehingga mampu mendorong tingkat permintaan domestik serta efek dasar yang rendah.

Pihak kementerian perdagangan Cina mengemukakan pada Kamis kemarin, bahwa mereka mengharapkan laju pengiriman ke pasar luar negeri guna mempertahankan momentum yang baik di paruh pertama tahun 2021 ini.

Terkait akan hal ini salah seorang analis di China Minsheng Bank mengatakan bahwa permintaan di negara maju tetap tinggi di bulan Mei lalu, dan kebangkitan kasus virus corona di pasar negara berkembang telah menyebabkan tingkat produksi yang lambat sehingga pengalihan pesanan ke Cina terus berlanjut.

Tingkat permintaan yang solid dapat terlihat dari hasil survei sektor pabrikan di AS dan Eropa, yang menunjukkan aktifitas manufaktur tetap berkembang dalam laju tercepatnya di periode beberapa tahun terakhir.

Akan tetapi para eksportir tetap bergulat dengan harga bahan baku serta biaya pengiriman yang lebih tinggi, adanya kemacetan logistik serta menguatnya nilai tukar mata uang Yuan yang kesemuanya telah mengurangi daya saing di sektor perdagangan Cina.

Diketahui bahwa harga komoditas seperti batubara, baja, bijih besi serta tembaga telah mengalami lonjakan di tahun ini, yang diakibatkan oleh pelonggaran kebijakan lockdown pandemi di banyak negara serta likuiditas global yang telah mencukupi.

Dalam beberapa pekan terakhir ini para pembuat kebijakan Cina telah menyatakan keprihatinannya tentang kenaikan harga komoditas, serta sekaligus menyerukan manajemen pasokan dan permintaan yang lebih ketat dan untuk menindak “spekulasi jahat”.

Pada awal pekan ini pemerintah Cina telah merilis data PMI yang menunjukkan pertumbuhan aktifitas pabrik yang sedikit mengalami perlambatan di bulan Mei, akibat lonjakan biaya bahan baku, sehingga membebani output perusahaan kecil yang beorientasi ekspor.

Dengan demikian surplus perdagangan diperkirakan mencatat hasil sebesar $ 50.5 milliar di bulan Mei, naik dari $ 42.86 milliar yang dibukukan pada bulan April.

Namun analis di Capital Economics menilai bahwa lonjakan pangsa ekspor global Cina yang disebabkan oleh pandemi, kemungkinan akan berbalik di kuartal mendatang, menyusul adanya gangguan virus yang memudar serta pola konsumsi global yang telah kembali mendekati level normalnya.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa para ekonom memperkirakan adanya pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan baru-baru ini, sedikit banyak akan menjadi hambatan yang lebih kuat terhadap ekonomi di akhir tahun ini.(WD)

Related posts