Header Ads

Reuter’s Poll : Ekspor Cina Tetap Solid

Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters terhadap sejumlah analis, menunjukkan bahwa dengan meningkatnya permintaan global serta efek pasar yang menguntungkan kemungkinan akan membuat ekspor Cina tetap solid di bulan Maret lalu, sementara itu harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mendorong laju impor Cina.

Dengan demikian sebanyak 27 ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan bahwa surplus perdagangan Cina diperkirakan akan menjadi sebesar $ 52.05 milliar di bulan Maret, menyusul surplus sebesar $ 103.25 milliar dalam dua bulan pertama di tahun ini.

Diperkirakan bahwa ekspor akan naik hingga 35.5% pada bulan Maret dari periode yang sama setahun sebelumnya, yang mana angka ini turun setelah mengalami lonjakan sebesar 60.6% dalam periode Januari-Februari, seiring kontraksi lebih dalam yang dialami di tahun lalu saat pandemi virus corona di Cina berada di puncaknya.

Laju permintaan luar negeri untuk produk barang-barang Cina mengalami rebound yang berlanjut, seiring pemulihan ekonomi global di tengah upaya vaksinasi yang lebih luas, yang mana hasil survei menunjukkan bahwa aktifitas pabrik di AS meningkat selama bulan Maret di tengah pertumbuhan yang kuat dalam pesanan baru serta pertumbuhan aktifitas pabrik Eurozone di tingkat bulanan yang berada dalam laju tercepatnya dalam catatan.

Sementara itu hasil survei di sektor manufaktur Cina, baik resmi maupun survei dari lembaga swasta, menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan, dengan mencatat pesanan ekspor yang kembali tumbuh di tengah permintaan yang meningkat dari pasar luar negeri.

Untuk laju impor kemungkinan akan naik sebesar 23.3% di bulan Maret, dibandingkan bulan yang sama di tahun lalu, yang mana angka perkiraan tersebut sedikit lebih tinggi dari kenaikan sebesar 22.2% dalam periode dua bulan pertama di tahun ini.

Dalam sebuah catatannya seorang ekonom di Goldman Sachs mengatakan bahwa pertumbuhan impor Cina kemungkinan masih tetap solid di bulan Maret, menyusul dukungan dari lebih banyaknya hari kerja, permintaan domestik yang sehat serta harga komoditas minyak yang lebih tinggi.

Namun demikian banyak analis yang percaya bahwa ekspor Cina akan kehilangan momentum jangka pendeknya serta menurunnya keuntungan pesanan yang ditransfer dari negara lain, akibat dari gangguan terkait virus corona yang nampaknya akan mulai berkurang.

Hal ini disampaikan oleh Julian Evans-Pritchard selaku ekonom senior Cina di Capital Economics, yang mengatakan bahwa kekuatan pertumbuhan ekspor saat ini nampaknya tidak berkelanjutan dan akan berkurang selama kuartal mendatang karena program vaksinasi yang memungkinkan kembalinya pola konsumsi global yang lebih normal.

Sedangkan pengamat ekonomi Cina lainnya juga mencatat bahwa infeksi Covid-19 yang kembali muncul di luar negeri serta adanya kendala dalam perdagangan global, telah membuat sejumlah perusahaan bergulat dengan jangka waktu pengiriman yang lama serta melonjaknya harga bahan baku.

Dalam hal ini sejumlah produsen mobil dan perangkat elektronik dari televisi hingga smartphone, telah mengeluarkan peringatan mengenai kekurangan pasokan produk chip global, yang menyebabkan terjadinya penundaan aktifitas manufaktur di tengah permintaan konsumen yang kembali bangkit dari krisis akibat pandemi.(WD)

Related posts