Header Ads

Reuter’s Poll : Ekspor Jepang Tumbuh Lebih Kuat

Ekspor Jepang diperkirakan akan mencatat laju pertumbuhan terkuat dalam lebih dari tiga tahun di bulan Maret, seiring pulihnya laju permintaan luar negeri yang menjadi faktor utama, meskipun akan ada lebih banyak hambatan dari krisis virus corona yang mengancam memperlambat pertumbuhan dalam pengiriman.

Sebuah jajak pendapat dari Reuters terhadap para ekonom menunjukkan bahwa pemulihan di negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut, telah dipimpin oleh peningkatan produksi dan ekspor, namun demikian lambatnya peluncuran vaksin serta lonjakan kasus baru infeksi Covid-19 telah mengaburkan prospek konsumsi.

Data utama yang akan dirilis di pekan depan, termasuk inflasi konsumen inti yang diperkirakan akan turun selama delapan bulan secara beruntun karena tekanan harga yang rendah akibat permintaan konsumen yang tetap lemah.

Hasil jajak pendapat dari 16 ekonom menunjukkan bahwa ekspor kemungkinan akan naik 11.6% di bulan Maret dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang akan menandai kenaikan paling tajam sejak Januari 2018 lalu.

Sementara untuk impor diperkirakan akan mengalami pertumbuhan hingga 4.7% di bulan Maret dari tahun lalu, yang berpotensi menghasilkan surplus perdagangan hingga sebesar 490.0 milliar Yen ($ 4.5 milliar).

Akibat pandemi yang terjadi sejak kuartal pertama di tahun lalu, perdagangan global mengalami guncangan yang besar, sehingga ekonomi Jepang menderita tekanan yang sangat dalam saat memasuki resesi untuk pertama kalinya dalam empat setengah tahun terakhirnya.

Salah seorang ekonom di Mitsubishi UFJ Research & Consulting, Kenta Maruyama mengatakan bahwa ekspor diharapkan kembali positif dibandingkan kinerja di tahun sebelumnya yang diakibatkan oleh dampak virus corona di Maret tahun lalu, yang mana tren kenaikan yang didukung oleh laju permintaan yang kuat untuk barang modal dan informasi terkait yang terus berlanjut.

Sedangkan untuk indeks harga konsumen inti (Core CPI), yang mencakup produk minyak namun tidak termasuk harga makanan segar yang volatile, diperkirakan akan turun 0.1% di bulan Maret, dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.(WD)

Related posts