Header Ads

Reuter’s Poll : Eurozone Alami Resesi Double-Dip

Di tengah pembatasan kebijakan lockdown menyusul kebangkitan kembali jumlah kasus infeksi virus corona, perekonomian di kawasan Eurozone akan berada dalam kondisi resesi double-dip, yang mana risiko terkait prospek ekonomi yang lemah telah semakin condong ke sisi negatif.

Hal ini disampaikan dalam jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah ekonom yang memperkirakan bahwa ekonomi Eurozone akan kembali mengalami kontraksi 0.8% di kuartal ini, setelah sebelumnya data GDP kawasan tersebut berkontraksi dalam dua kuartal pertama di tahun lalu, sehingga ekspektasi saat ini menjadi resesi double-dip.

Penundaan peluncuran vaksin di Uni Eropa serta kekhawatiran mengenai varian virus corona baru yang menyebabkan diterapkannya kebijakan lockdown saat ini, sehingga aktifitas ekonomi di kawasan tersebut terhenti dan meningkatnya jumlah pengangguran menjadi ancaman serius bagi laju pemulihan yang diharapkan sebelumnya.

Pada bulan lalu ekonomi Eurozone diprediksi akan mengalami pemulihan tajam dan akan tumbuh hingga 0.6% di kuartal ini setelah mengalami penyusutan hingga 0.7% di kuartal keempat, akan tetapi pandangan tersebut berubah menjadi suram dalam jajak pendapat di awal bulan ini, akibat dari lonjakan kasus Covid-19 yang memerlukan kebijakan pembatasan baru terhadap aktifitas ekonomi dan sosial.

Marcel Klok yang menjabat sebagai ekonom senior di ING mengatakan bahwa dengan kebijakan lockdown yang diperpanjang hingga tahun baru maka hal ini menciptakan kondisi yang paling suram untuk Eurozone, dimana GDP akan kembali mengalami kontraksi di kuartal pertama dan menyisakan pertanyaan seberapa banyak kontraksi yang akan terjadi.

Lebih lanjut Klok menambahkan bahwa kombinasi kebijakan lockdown dan lambatnya peluncuran vaksin akan memungkinkan pembukaan kembali aktifitas ekonomi yang lebih substansial selama kuartal kedua dan periode ini akan menandai dimulainya laju pemulihan ekonomi di kawasan tersebut.

Dalam jajak pendapat disebutkan bahwa ekonomi Eurozone diperkirakan akan tumbuh 2.1% di kuartal kedua, dari perkiraan pertumbuhan 2.3% di bulan lalu, dan kemudian diharapkan akan meningkat sebesar 1.9% di kuartal ketiga dan 1.2% di kuartal keempat, yang mana masih sejalan dengan perkiraan pertumbuhan 1.9% untuk Q3 dan 1.0% di Q4 di bulan Januari lalu.

Setelah mengalami penyusutan sebesar 6.9% di tingkat tahunan pada 2020 lalu, ekonomi Eurozone akan mengalami pertumbuhan 4.3% di tahun ini dan 4.0% di tahun berikutnya, dari perkiraan pertumbuhan 4.5% dan 3.9% sebelumnya.

Kepala ekonom Eropa di Capital Economics, Andrew Kenningham mengatakan bahwa situasi virus telah memburuk di sejumlah negara anggota Eurozone dan peluncuran vaksin tidak semulus yang diharapkan, sehingga pihaknya berharap akan ada peningkatan namun seiring berjalannya waktu maka risiko yang ada memungkinkan lambatnya pemerintah Eropa untuk mencabut kebijakan pembatasan ekonomi.

Dengan demikian maka asumsi kerja yang disampaikan oleh Kenningham menunjukkan bahwa beberapa pembatasan akan mulai dicabut di bulan April mendatang dan sebagian besar pembatasan yang merusak secara ekonomi akan dicabut di periode Mei atau Juni mendatang.

Presiden European Central Bank, Christine Lagarde mengatakan bahwa laju pemulihan kawasan Eropa dari resesi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, sepertinya akan mengalami penundaan namun tetap meningkat dari periode paruh kedua di tahun ini.

Sebanyak 22 dari 34 ekonom atau sekitar 65% merasa optimis dan menyetujui saat ditanya apakah GDP untuk Eurozone akan kembali ke level sebelum terjadinya krisis pada pertengahan 2022 seperti yang diproyeksikan oleh ECB.

Seperti yang disampaikan oleh Ludovic Subran yang menjabat sebagai kepala ekonom di Allianz, bahwa vaksin menjadi pengganda utama untuk laju investasi dan konsumsi swasta, yang mana mengkampanyekan vaksinasi di jalur yang benar menjadi kuncinya karena akan memungkinkan untuk kembali ke level sebelum terjadinya krisis di pertengahan tahun depan.

Sedangkan saat ditanya mengenai apakah ECB akan mencoba mengendalikan kurva imbal hasil, sebanyak 21 dari 35 ekonom mengatakan tidak, seperti disampaikan oleh Jens-Oliver Niklasch selaku ekonom di bank BBLR bahwa ECB tidak akan mengumumkan kisaran target untuk imbal hasil jangka panjang, yang bukan karena tidak ada imbal hasil jangka panjang namun juga karena ECB akan mencoba untuk mengekang setiap kenaikan substansial dalam imbal hasil dengan pedoman kedepan dan program pembelian asetnya.(WD)

Related posts