Reuter’s Poll : Fed’s Tapering Terjadi Di Agustus – September

Dalam jajak pendapat yang digagas oleh Reuters disebutkan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mengumumkan strategi pengurangan program pembelian aset obligasi dalam skala besar pada bulan Agustus atau September, namun demikian mereka tidak akan mulai melakukan pemotongan pembelian bulanannya hingga awal tahun depan.

Mayoritas pengamat Fed juga mengatakan bagwa bank sentral nampaknya akan menunggu hingga akhir tahun sebelum mengumumkan program tapering, dan saat ini fokus utama pasar tertuju pada kenaikan inflasi seiring akhir pandemi di AS sudah berada di depan mata.

Laju permintaan yang kuat di tengah pembukaan kembali aktifitas ekonomi di AS, diperkirakan akan berlanjut sehingga mampu mendorong harga konsumen di tahun ini, yang mana jajak pendapat Reuters di kurun 4-10 Juni terhadap sekitar lebih dari 100 ekonom menunjukkan adanya peningkatan terhadap perkiraan pertumbuhan dan inflasi.

Hampir 60% ekonom, atau 29 dari 50, yang menanggapi pertanyaan tambahan mengatakan bahwa pengumuman secara bertahap dari bank sentral akan datang pada kuartal berikutnya, meskipun pemulihan merata di pasar kerja dalam beberapa bulan terakhir.

Hal tersebut termasuk 13 prediksi yang akan disampaikan pada simposium Jackson Hole pada bulan Agustus mendatang, yang merupakan sebuah konferensi tahunan dari para bankir sentral yang sering membuahkan petunjuk penting terkait kebijakan.

Terkait akan hal ini James Knightley selaku kepala ekonom internasional di ING< mengatakan bahwa pihaknya berharap untuk mendengar petunjuk yang jelas saat perhelatan Jackson Hole Conference, tentang The Fed saat ini yang tengah mendiskusikan manfaat pengurangan Quantitative Easing dan diharapkan bahwa hal tersebut akan dikembangkan secara lebih lanjut pada FOMC Meeting di bulan September yang hanya berselang empat pekan.

Knightley juga menyampaikan bahwa pada saat itu pihaknya memperkirakan bahwa The Fed akan memberikan indikasi bahwa pasar harus bersiap untuk adanya pengumuman pengurangan QE secara formal, dengan jalur ke depan yang diuraikan pada saat FOMC Meeting di bulan Desember.

Sekitar 60% ekonom atau sebanyak 26 dari 45 ekonom, mengatakan bahwa pengurangan akan dimulai pada kuartal pertama tahun depan, dengan perkiraan pengurangan rata-rata sebanyak $ 20 milliar yang terbagi antara Treasuries dan mortgage-backed securities (MBS), selain perkiraan $ 40 miliar untuk Treasuries dan $ 20 miliar untuk MBS.

Ekonomi AS diperkirakan akan tumbuh di tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman masing-masing sebesar 10.0%, 7.0% dan 5.0% di kuartal ini, yang didorong oleh pengeluaran pemerintah yang besar serta dukungan inokulasi yang cepat.

Lebih lanjut Knightley menyampaikan bahwa AS saat ini berada di jalur untuk pemulihan semua output yang hilang di kuartal saat ini dan akan menutup tahun dengan ekonomi yang lebih besar dibandingkan jika tidak ada pandemi, sehingga pertumbuhan hanya akan berlanjut seperti trend pertumbuhan saat 2014-2019 lalu.

Tingkat pengangguran AS diperkirakan akan turun secara bertahap hingga akhir tahun depan, rata-rata lebih dari 5% tahun ini dan lebih dari 4% pada 2022, yang mana angka tersebut masih di atas level sebelum terjadinya krisis sebesar 3.5%.

Sementara itu pengukur inflasi yang disukai The Fed, Core PCE telah mengalami lonjakan di bulan April menjadi 3.1% yang mencatat kenaikan tertinggi di tingkat tahunan sejak Juli 1992, dan diperkirakan tahun ini akan tumbuh rata-rata 2.5% dan 2.2% di tahun berikutnya.

Sedangkan ahli strategi senior AS di Rabobank, Philip Marey mengatakan bahwa sementara banyak dari apa yang dilihat saat ini hanya bersifat sementara, namun perubahan struktural tengah terjadi dalam ekonomi global dan kebijakan fiskal domestik yang dapat menyebabkan berlanjutnya inflasi yang tinggi.

Lebih dari 60% ekonom, atau 23 dari 38, mengatakan inflasi yang lebih tinggi adalah risiko terbesar bagi ekonomi AS, dibandingkan dengan hanya enam angka pengangguran yang tinggi, sementara sekitar dua pertiga mengatakan mereka khawatir tentang kenaikan inflasi AS.

Hal ini disampaikan oleh Sal Guatieri selaku ekonom senior di BMO Capital Markets, bahwa pasar telah mendapat pesan bahwa peluncuran stimulus dan vaksin yang bersemangat telah menyebabkan permintaan AS yang akan pulih lebih cepat dibandingkan laju pasokan.

Sehingga Guatieri juga mengatakan bahwa hal tersebut akan menciptakan banyak efek samping yang tidak menyenangkan seperti inflasi yang tinggi, hanya dalam beberapa kuartal setelah runtuhnya ekonomi sehingga akan muncul ketidakseimbangan pasca resesi.(WD)

Related posts