Header Ads

Reuter’s Poll : Output Pabrik Jepang Kemungkinan Turun

Sebuah jajak pendapat dari Reuters menunjukkan output pabrik Jepang untuk bulan Maret kemungkinan akan mengalami penurunan di bulan kedua secara berturut-turut, namun untuk penjualan ritel ditetapkan akan mengalami rebound yang solid dari penurunan yang terjadi sebelumnya, sehingga menggarisbawahi laju pemulihan yang rapuh akibat krisis virus corona.

Sejumlah indikator akan mengikuti langkah pemerintah untuk menerapkan kondisi darurat ketiga di Tokyo dan wilayah utama lainnya dari 25 April hingga 11 Mei, yang berpotensi menimbulkan hantaman kembali terhadap aktifitas sektor jasa yang akan memicu kekhawatiran resesi double-dip.

Dengan kebijakan keadaan darurat baru, pemerintah Jepang diharapkan untuk mewajibkan restoran, bar dan ruang karaoke yang menyajikan alkohol, departement store serta pengecer besar lainnya untuk menutup aktifitas mereka.

Data output pabrik yang akan dirilis oleh Kementerian Perindustrian pada 30 April mendatang, diperkirakan oleh 18 ekonom yang disurvei Reuters akan menunjukkan laju produksi pabrik Jepang yang turun 2.0% di tingkat bulanan pada Maret lalu, menyusul penurunan 1.3% di bulan Februari sebelumnya.

Hal tersebut akan menimbulkan kekhawatiran mengenai aktifitas pabrik, yang dipandang sebagai pendorong utama bagi laju pemulihan ekonomi yang dipimpin oleh permintaan global terhadap produk mobil dan alat elektronik, namun prospeknya kemungkinan tertutup oleh kekurangan chip global.

Takeshi Minami selaku kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, mengatakan bahwa di tengah peningkatan selera untuk belanja modal, yang dipimpin oleh barang-barang yang berhubungan dengan informasi dan modal, maka para produsen mobil terpaksa mengekang produksi karena kekurangan pasokan chip sehingga output pabrik kemungkinan akan naik-turun di waktu mendatang.

Selain itu jajak pendapat juga menyebutkan bahwa untuk penjualan ritel akan mengalami lonjakan 4.7% di bulan Maret, berbalik dari penurunan 1.5% di bulan Februari sebelumnya, yang kemungkinan besar mendapat dorongan oleh permintaan yang terpendam dari kebijakan pembatasan Covid-19 yang diberlakukan.

Akan tetapi kondisi darurat baru dapat memberikan pukulan berat bagi sektor jasa, yang dapat mendorong Jepang kembali ke resesi jika pihak pengecer diminta untuk tutup selama musim liburan Golden Week dari pekan depan dan hingga awal Mei mendatang.

Mengingat risiko kembalinya kondisi deflasi bagi ekonomi Jepang, harga konsumen inti di wilayah Tokyo diperkirakan akan berubah datar di tingkat tahunan pada bulan April, dibandingkan penurunan 0.1% di bulan sebelumnya meskipun ada tekanan turun dari biaya telepon seluler yang lebih rendah.

Sedangkan ketersediaan lapangan pekerjaan dan tingkat pengangguran kemungkinan akan tetap stabil, masing-masing di angka 1.09 dan 2.9 di bulan Maret, sementara pembangunan perumahan diperkirakan telah jatuh hingga 7.4% di tahun ini hingga Maret lalu, sebagai sebuah tanda tekanan yang timbul dari Covid-19 terhadap laju permintaan perumahan.(WD)

Related posts