Reuter’s Poll : Pengeluaran Rumah Tangga Jepang Turun

Hasil jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah ekonom menunjukkan bahwa kemungkinan laju pengeluaran sektor rumah tangga di Jepang selama bulan Januari akan mengalami penurunan dari periode yang sama di tahun sebelumnya, sehingga mencatat penurunan dalam dua bulan secara beruntun, setelah pemerintah Jepang memperkenalkan kondisi darurat sebagai langkah meredam penyebaran virus corona selama Januari lalu.

Sebanyak 15 ekonom yang disurvei mengatakan bahwa pengeluaran rumah tangga Jepang akan mengalami penurunan 2.1% di bulan Januari dari periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah mengalami penurunan 0.6% di bulan Desember, sementara dalam skala bulanan laju pengeluaran kemungkinan akan turun 3.1% di bulan Januari setelah mencatat kenaikan 0.9% di bulan Desember.

Takumi Tsunoda selaku ekonom senior di Shinkin Central Bank Research Institute, mengatakan bahwa permintaan untuk tetap tinggal di rumah telah membuat pembelian terhadap peralatan listrik serta makanan dan minuman masih tetap kuat, namun belanja jasa seperti perjalanan dan makan di luar nampaknya menunjukkan hasil yang lemah.

Sebagai negara ekonomi terbesar ketiga di dunia, ekonomi Jepang sangat mengandalkan sektor ekspor mereka, yang saat ini mampu bangkit kembali dari resesi terburuk pasca perang dunia II di tahun lalu, berkat dukungan dari kenaikan permintaan luar negeri.

Namun kebijakan pembatasan penyebaran virus corona yang sedang berlangsung telah menghantam sektor jasa Jepang disaat negara tersebut tengah berkutat dengan gelombang infeksi virus ketiga, yang mana Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan bahwa pemerintah Jepang berencana untuk memperpanjang keadaan darurat di Tokyo serta tiga prefektur lainnya yang berdekatan dengan wilayah Tokyo.

Dalam jajak pendapat disebutkan pula bahwa produk domestik bruto Jepang kemungkinan akan meningkat menjadi 12.8% di tingkat tahunan pada periode Oktober-Desember tahun lalu, yang mana angka tersebut sedikit lebih tinggi dari pembacaan awal di 12.7%, dan data revisi PDB resmi dari pemerintah akan dirilis bersamaan dengan data pengeluaran rumah tangga pada 9 Maret mendatang.

Pada periode Oktober-Desember tahun lalu besaran PDB tercatat naik 3.0% dari kuartal sebelumnya, tidak berubah dari perkiraan awal, dan belanja modal kemungkinan tumbuh 4.1% di kuartal keempat dari kuartal sebelumnya, dibandingkan dengan pembacaan awal pertumbuhan di angka 4.5%.

Para analis mengatakan bahwa laju pengeluaran publik yang lebih baik dari perkiraan kemungkinan besar akan memberikan dukungan bagi PDB secara keseluruhan di periode kuartal keempat tahun 2020 lalu.(WD)

Related posts