Header Ads

Sentimen Konsumen Australia Melemah

Kebijakan lockdown yang diterapkan di wilayah negara bagian Victoria untuk meredam penyebaran virus corona telah menciptakan kesuraman, sehingga menekan ukuran sentimen konsumen Australia yang mencatat penurunan di bulan kedua, meskipun terdapat tanda-tanda kekuatan di seluruh sektor ekonomi.

Westpac dan Melbourne Institute merilis indeks sentimen konsumen Australia yang mencatat penurunan 5.2% di bulan Juni, lebih besar dari penurunan 4.8% di bulan Mei sebelumnya, setelah indeks sentimen mencatat kenaikan 14.5% di bulan yang sama pada tahun lalu saat negeri kangguru tersebut mampu bangkit dari dampak lockdown nasional.

Pasca dirilisnya data tersebut kepala ekonom Westpac Bill Evans mengatakan bahwa penurunan terbaru yang tercatat di bulan Juni, hampir pasti diakibatkan oleh kekhawatiran terkait kebijakan lockdown selama dua pekan di Melbourne, yang mana survei ini dilaksanakan saat pekan pertama lockdown.

Pihak otoritas negara bagian Victoria diperkirakan akan segera mengumumkan pelonggaran pembatasan di Melbourne, yang saat ini mencatat hanya satu kasus infeksi Covid-19, yang dilaporkan pada hari Selasa kemarin.

Saat sentimen konsumen di negara bagian Victoria mengalami penurunan tajam hingga sebesar 7.5%, di saat yang bersaman negara bagian New South Wales bernasib lebih baik dengan mencatat penurunan hanya 1.1% di bulan yang sama.

Secara keseluruhan penurunan indeks terjadi di semua komponen, dengan ukuran keuangan di sektor rumah tangga mengalami penurunan 8.5% dibandingkan tahun lalu, sementara sentimen terhadap sektor keuangan rumah tangga mencatat penurunan 2.0% dalam 12 bulan ke depan.

Sementara itu untuk prospek ekonomi secara keseluruhan dalam 12 bulan kedepan, dilaporkan turun 10.3%, sedangkan untuk lima tahun kedepan mencatat penurunan 1.4%, dan ukuran untuk melakukan pembelian barang rumah tangga juga mengalami penurunan 4.1%.

Untuk pasar perumahan yang masih menjadi topik hangat dengan indeks survei ekspektasi harga rumah dilaporkan berada di angka 157 yang mencatat level tinggi secara historis, namun niatan untuk membeli justru mengalami penurunan tajam karena keterjangkauan yang buruk.

Lebih lanjut Evans mengemukakan bahwa lonjakan harga dan keterjangkauan yang memburuk dengan cepat, jelas telah menimbulkan beban bagi para pembeli, sehingga menunjukkan aktifitas pemilik, terutama pembeli rumah pertama, kemungkinan besar akan memudar di masa mendatang.(WD)

Related posts