Suku Bunga Jangka Pendek Cina Melonjak

Suku bunga jangka pendek Cina melonjak ke level tertingginya dalam hampir enam tahun terakhir, seiring para investor yang merasa khawatir terhadap pembuat kebijakan kemungkinan mulai beralih ke nada yang lebih ketat guna mendinginkan kenaikan harga saham dan properti.

Saat ini bank sentral Cina belum melakukan suntikan likuiditas bersih ke dalam sistem perbankan untuk memenuhi permintaan terhadap uang tunai yang kuat menjelang liburan panjang menyambut Tahun Baru Imlek.

Volume-weighted average rate Cina dari patokan perjanjian pembelian kembali, yang diperdagangkan di pasar antar bank mencatat kenaikan menjadi 2.9930% di perdagangan sore hari ini, naik sekitar 21.84 basis poin sehingga mencatat level tertingginya sejak 1 April 2015 lalu, sementara tingkat repo untuk tujuh hari menjadi 6.0%, yang merupakan level tertinggi sejak 27 juni 2018 lalu.

Diberitakan bahwa People’s Bank of China telah menyuntikkan dana sebesar 180 milliar Yuan ($ 27.86 milliar) melalui program operasi pasar terbuka di awal sesi, yang mana nilai ini berbeda minimal 2 milliar Yuan di sesi sebelumnya, namun masih mampu menarik sekitar 100 milliar Yuan secara bersih.

Lebih lanjut pihak PBOC mengatakan bahwa suntikan dana ini dimaksudkan untuk menjaga likuiditas sistem perbankan menjadi cukup memadai, karena laju pengeluaran fiskal meningkat secara signifikan menjelang akhir bulan ini.

Salah seorang pedagang di sebuah bank komersil Cina mengatakan bahwa langkah yang diambil oleh PBOC menunjukkan bahwa pihak regulator tertarik untuk menarik leverage di pasar keuangan, karena banyak investor yang bertaruh pada kondisi moneter yang relatif longgar sebelum liburan mendatang.

Pada pekan ini salah seorang penasihat di PBOC, Ma Jun mengatakan bahwa risiko bubbling aset akan tetap ada jika Cina tidak melakukan perubahan yang tepat dalam sikap kebijakan moneternya di tengah kondisi leverage yang tumbuh cepat akhir-akhir ini.

Ekonom lainnya juga memperingatkan bahwa bank sentral secara bertahap akan mengubah sikap kebijakannya di tahun ini, setelah sebelumnya menerapkan langkah-langkah darurat secara besar-besaran untuk meredam guncangan dari pandemi virus corona pada tahun lalu.

Namun demikian mayoritas analis tidak memperkirakan bahwa pemerintah Tiongkok akan menaikkan suku bunga acuan di tahun ini yang dinilai berisiko menggagalkan laju pemulihan ekonominya, akan tetapi sebuah sumber di bank sentral Cina mengatakan bahwa PBOC akan mendinginkan laju pertumbuhan kredit sementara pemerintah kemungkinan besar akan mengurangi besaran stimulus fiskal.

Para investor mengharapkan bahwa bank sentral Cina akan melanjutkan reverse repo 14 hari dan akan melakukan operasi fasilitas pinjaman jangka menengah guna meningkatkan likuiditas dan menekan biaya pendanaan ke tingkat yang lebih wajar.

Dalam hal ini tanda-tanda adanya tekanan likuiditas di dalam negeri telah menyebabkan efek limpahan ke pasar luar negeri, mendukung biaya pinjaman dalam mata uang Yuan di Hong Kong.(WD)

Related posts