Header Ads

Yen Berpotensi Tertekan Seiring Kebijakan BoJ

Sejumlah bank sentral yang bersikap dovish serta sejumlah perusahaan yang tertarik untuk menempatkan uang tunai di pasar luar negeri, telah bergabung untuk membuat mata uang Yen Jepang menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di dunia, yang mana kelemahan tersebut kemungkinan akan bertahan sementara.

Sepanjang tahun ini sejumlah faktor, baik dari dalam negeri Jepang maupun dari luar negeri, telah berkonspirasi untuk memberikan tekanan turun hingga sebesar 6% terhadap nilai tukar mata uang Yen terhadap greenback.

Tidak seperti bank sentral utama lainnya yang mulai menghadapi risiko inflasi dan mempertimbangkan penarikan stimulus pandemi darurat, Bank of Japan tidak hanya bergulat dengan deflasi tetapi juga enggan untuk secara terbuka menyarankan untuk memulai kebijakan tapering mereka.

Selain itu Jepang juga melangkah lebih lambat dibandingkan kebanyakan negara lainnya dalam menjalankan program vaksin Covid-19, sehingga ekonomi mereka masih mengalami penyusutan serta tidak adanya turis asing yang mana berarti tidak ada dukungan nyata dari penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 yang tertunda hingga musim panas ini.

Menanggapi hal tersebut, Joseph Capurso selaku kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia, menbagatakan bahwa dirinya berpikir mata uang Yen akan menjadi salah satu mata uang yang berjuang lebih keras di tengah peningkatan ekonomi global saat ini.

Lebih lanjut Capurso menilai bahwa seiring laju pemulihan yang berpotensi merusak kinerja US Dollar, yang secara tradisional bergerak berlawanan dengan siklus ekonomi, mata uang Yen memiliki kredensial safe haven yang kuat dan kemungkinan akan mencatatkan kinerja yang buruk, sehingga diproyeksikan bahwa Yen akan berada di kisaran 116 dalam periode satu tahun dari level 110 pada saat ini.

Para investor tengah bertaruh pada laju pemulihan ekonomi di Eropa dan AS, sehingga mampu mendukung ekuitas global serta imbal hasil obligasi dan US Dollar, dan ini telah membuat status mata uang Yen sebagai mata uang pendanaan yang murah dan aman telah semakin diperkuat.

Sementara itu manajer cabang di State Street Bank & Trust di Tokyo, Bart Wakabayashi mengatakan bahwa praktek carry trade saat ini menjadi sangat populer dan hal itu bukan pertanda yang baik untuk Yen, dan pihaknya tidak mengetahui bagaimana cerita sebenarnya untuk memperkuat posisi Yen untuk saat ini.

Sejumlah kelemahan tersebut dapat semakin jelas terlihat oleh adanya booming akuisisi di pasar luar negeri yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asal Jepang secara tiba-tiba, sehingga mereka mampu meraih keuntungan.

Sebuah data yang dikeluarkan oleh perusahaan penasihat mergers and acquisitions (M&A), Recof menunjukkan ada sebanyak 210 akuisisi asing oleh perusahaan Jepang selama empat bulan pertama di tahun ini, dengan nilai mencapai 3.71 triliun Yen ($ 33.64 milliar), yang mencatat tiga kali lipat dari total nilai akuisisi di tahun sebelumnya.

Terkait akan hal tersebut, kepala strategi mata uang di Citigroup yang berbasis di Tokyo, Osamu Takashima mengatakan bahwa suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi nilai tukar mata uang asing, namun hal ini bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi, yang mana aliran merger dan akuisisi telah mendorong Yen mencatat penurunan terhadap USD.

Divergensi yen dari imbal hasil AS, dan pelemahannya yang terus-menerus hingga April bahkan ketika dolar turun secara luas, membuat pelaku pasar tidak setuju dengan pandangannya.

Sedangkan Tohru Sasaki yang menjabat sebagai kepala riset Jepang di JPMorgan Tokyo, mengatakan bahwa divergensi dalam kebijakan moneter dapat menjelaskan sejumlah tingkat pelemahan Yen, namun tidak di level saat ini, serta sifat satu kali dari arus keluar merger dan akuisisi telah dikombinasikan dengan dislokasi Yen dari fundamental, harus memberikan dukungan pemulihan hingga ke level 105 atau 106 terhadap Dollar.

Indeks nominal Yen dalam trade-weighted basis telah mencatat penurunan hingga 6.2% sepanjang tahun ini hingga ke level yang terlihat di 2018 untuk terakhir kalinya, yang sebagian besar disebabkan oleh lonjakan Yuan Cina, yang mencatat hingga sepertiga dari pergerakan mata uang utama, bahkan melebihi gabungan dari Dollar AS dan Euro.

Kepala Strategi FX global di Societe Generale, Kit Juckes dalam sebuah catatannya menuliskan bahwa saat ini Yen terlihat macet dan berada di harga yang murah, sehingga hanya menunggu sejumlah berita fundamental yang lebih baik mengenai Covid-19 serta pembukaan kembali aktifitas ekonomi secara lebih luas lagi.

Para hedge fund serta spekulan lainnya telah memasang taruhan mereka terhadap Yen, dan ini terlihat dari data yang dikeluarkan oleh US Commodity Futures Trading Commission yang menunjukkan kenaikan tajam taruhan ke posisi jual Yen terbesar dalam hampir dua tahun terakhirnya di akhir bulan April lalu.

Ekonom lainnya seperti kepala FX Jepang serta strategi suku bunga dari Bank of America, Shusuke Yamada mengatakan dengan The Fed yang memberikan sinyal pengetatan moneter serta kenaikan ekuitas yang berlanjut, maka kemungkinan hal ini akan menyiratkan lebih banyak tekanan bagi mata uang Yen, dan Yamada juga memperhitungkan bahwa mata uang Yen bisa mencapai hingga 115 terhadap Dollar dan berada di angka 113 pada akhir tahun ini sehingga BoJ kemungkinan akan menjadi penghambat terbesar.(WD)

Related posts