Header Ads

Yoshihide Suga Dinilai Akan Menjadi Partner Tangguh Bagi BoJ

Saat ini berkembang suatu penilaian yang menunjukkan bahwa Yoshihide Suga yang kemungkinan akan menggantikan Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri baru Jepang, akan menjadi partner yang tangguh bagi bank sentral Jepang untuk melanjutkan agenda kebijakan moneter untuk memberikan dukungan yang besar bagi perekonomian negara tersebut.

Sebagai pemegang posisi kunci dalam pemerintahan Abe dan juga sebagai juru bicara utama pemerintah, Suga dinilai merupakan pasangan yang memiliki pengetahuan menyeluruh terhadap kerangka kebijakan bank sentral Jepang, namun dibalik itu beliau juga tahu bagaimana memberikan tekanan terhadao BoJ untuk segera mengambil tindakan.

Menjelang pemilihan kepemimpinan di akhir bulan ini menyusul Suga yang terus memperkuat dukungan di dalam partai yang berkuasa Jepang, bursa saham Tokyo terpantau menguat karena ekspektasi kebijakan pro pertumbuhan dari Abe yang dipertahankan.

Sementara itu Bank of Japan yang terkunci dalam upaya untuk meredam pukulan dari pandemi virus corona, telah melihat adanya sedikit kebutuhan untuk perubahan kebijakan yang terlepas dari siapa yang menjadi perdana menteri berikutnya.

Secara khusus Suga dinilai dapat mempertahankan status quo jika dirinya mengambil alih kendali, mengingat peran kunci yang beliau jalankan dalam mendorong kebijakan Abenomics, yang berusaha untuk memacu pertumbuhan dengan pelonggaran moneter yang berani, pengeluaran fiskal dan reformasi struktural.

Hal ini disebutkan oleh salah satu sumber bahwa Suga memiliki pemahaman yang mendalam mengenai kebijakan Bank of Japan sehingga kemungkinannya semakin besar terhadap berlanjutnya kebijakan dan pemerintahan Suga akan mempertahankan sebagian besar kebijakan Abe, termasuk sikapnya terhadap kebijakan moneternya, dan selain itu bagi para pembuat kebijakan bank sentral Jepang, Suga dianggap sosok yang akrab dengan mereka yang sepertinya tidak mungkin “menggertak” bank sentral dengan tuntutan eksplisit untuk tindakan yang radikal.

Namun demikian dengan dipersenjatai dengan cengkeraman yang kuat pada birokrasi Tokyo serta pengetahuan mendalam mengenai kebijakan ekonomi Abe, Suga kemungkinan terbukti menjadi negosiator tangguh bagi Bank of Japan jika kondisi ekonomi memburuk menyusul upayanya untuk melawan hambatan ekonomi dengan perangkat yang semakin menipis.

Pada tahun 2016 lalu Suga telah menciptakan kerangka kerja untuk pertemuan Bank of Japan bersama dengan kementerian keuangan dan regulator perbankan pada saat terjadinya volatilitas sebagai bentuk kepekaan dari jajaran Abe terhadap gejolak pasar keuangan yang dihiasi kenaikan mata uang Yen yang tajam, sehingga membantu Tokyo memberi sinyal kepada investor terhadap kekhawatirannya atas pergerakan pasar.

John Vail sebagai kepala strategi global di Nikko Asset Management, mengatakan bahwa fokus pemerintah untuk menjaga agar yen tetap terkendali juga akan dipertahankan di bawah pemerintahan baru jika Menteri Keuangan Taro Aso mempertahankan posisinya dan ada sedikit alasan untuk mengharapkan Suga mendorong lebih banyak kebijakan untuk melemahkan mata uang Yen.

Banyak pejabat BOJ merasa mereka telah melakukan cukup untuk saat ini mengingat kenaikan biaya dan semakin berkurangnya pengembalian pelonggaran lebih lanjut, dan berhati-hati dalam meningkatkan stimulus terlalu tergesa-gesa, terutama dengan memangkas suku bunga yang sudah sangat rendah.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada pekan lalu, Suga membantah pandangan bahwa suku bunga ultra rendah yang berkepanjangan menjadi penyebab penderitaan bagi bank-bank regional dan sebaliknya justru menyerukan lebih banyak konsolidasi di antara pemberi pinjaman untuk merampingkan operasi mereka.

Selain itu beliau juga menekankan tentang perlunya Bank of Japan untuk melakukan kerja sama dengan pihak pemerintah, yang mana ini menandakan harapannya bahwa bank sentral akan terus memberikan bantuan bagi upaya pemerintah Jepang dalam mendukung laju pertumbuhan ekonominya.

Saat ditanya mengenai apakah BoJ harus melakukan pelonggaran lebih lanjut jika pemerintah menyusun paket stimulus lainnya, Suga menjawab bahwa pihaknya akan selalu bertindak lebih dekat dan bersifat pre-emptive dengan bank sentral Jepang, dikarenakan sangat penting artinya jika kedua belah pihak bertindak secara bersama-sama.(WD)

Related posts