Header Ads

Bursa Asia Anjlok Akibat Kekhawatiran Lonjakan Virus

Jatuhnya bursa Wall Street semalam telah berimbas pada anjloknya mayoritas bursa saham di kawasan Asia di sesi perdagangan hari ini seiring kekhawatiran mengenai kebangkitan kasus infeksi virus corona di sejumlah negara yang menimbulkan keraguan terhadap kekuatan pemulihan global serta mempengaruhi permintaan minyak mentah.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencatat [enurunan 0.6% hingga saat ini, indeks S&P ASX jatuh hingga 1.25% dan bursa saham Cina melemah 0.46%, sementara Tokyo Stocks Exchange terpantau turun 1.79% seiring meningkatnya kemungkinan bahwa kota Tokyo, Osaka dan sekitarnya akan diisolasi akibat gelombang baru dari infeksi virus corona.

Selain itu harga minyak mentah berjangka juga nampaknya memperpanjang penurunannya dari level tertinggi satu bulan saat sesi perdagangan Asia, di tengah spekulasi pasar yang menunjukkan kebijakan pembatasan di India, sebagai negara importir minyak terbesar ketiga di dunia, yang dinilai akan menganggu laju permintaan energi global.

Kekhawatiran ini memupus optimisme yang timbul baru-baru ini terkait meningkatnya program vaksinasi di AS, Inggris dan Eropa, yang diakibatkan oleh jumlah infeksi virus corona di India yang mencapai rekornya serta semakin ketatnya pembatasan perjalanan yang akan berfungsi menjadi rem bagi laju ekonomi global.

Hal ini tertuang dalam catatan penelitian dari analis di Commonwealth Bank of Australia yang menunjukkan bahwa kekhawatiran baru mengenai pemulihan ekonomi global, telah membebani harga komoditas dan mata uang komoditas dan banyak negara di belahan dunia seperti India dan Brasil yang telah mencapai rekor baru untuk jumlah infeksi virus dan kematian, sehingga selama virus masih tetap ada maka akan ada risiko terjadinya mutasi virus yang berkembang dan menyebar ke negara lain.

Penurunan yang terjadi di pasar ekuitas Asia tidak terlepas dari jatuhnya bursa saham Wall Street di sesi perdagangan hari Selasa waktu AS, menyusul para investor yang melakukan aksi jual terhadap saham maskapai penerbangan dan saham-saham yang terkait perjalanan karena merasa ketakutan akan adanya penundaan pemulihan dalam pariwisata global.

Sementara itu sejumlah saham teknologi serta perusahaan yang mendapat keuntungan dari adanya himbauan untuk tetap di rumah, sehingga mampu untuk meredam tekanan lebih lanjut, seperti perusahaan Netflix yang justru melaporkan pertumbuhan pelanggan jasa streaming film yang mengecewakan dan membuat saham mereka turun 11% di sesi perdagangan kemarin.

Potensi jatuhnya permintaan terhadap minyak mentah disebabkan oleh kondisi India saat ini sebagai negara terpadat di dunia sekaligus sebagai salah satu negara konsumen energi utama dunia, yang telah melaporkan jumlah kematian di tingkat harian yang terburuk sehingga sebagian besar wilayah di negara tersebut telah diisolasi, sehingga apa yang terjadi di India ini menjadi sumber kekhawatiran pasar terhadap belum berakhirnya pandemi Covid-19.(WD)

Related posts