Bursa Asia Bergerak Dalam Pergerakan Mixed

Perdagangan bursa saham di kawasan Asia bergerak dalam kecenderungan mixed di sesi hari Selasa ini, seiring para investor yang bertaruh terhadap langkah pengetatan moneter yang lebih cepat dari Federal Reserve setelah Jerome Powell kembali dinominasikan untuk memperpanjang jabatannya yang kedua sebagai Ketua The Fed, guna merampungkan tujuannya untuk menjinakkan lonjakan inflasi yang terjadi.

Sementara itu Powell diperkirakan secara luas untuk mendapat persetujuan dari Presiden AS Joe Biden untuk tetap memimpin bank sentral AS, sehingga berita tersebut membuat tiga indeks utama Wall Street menjauh dari level tertingginya intraday dengan indeks Nasdaq yang berakhir turun lebih dari 1%, menyusul perusahaan teknologi AS yang rentan terhadap tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Lonjakan harga akhir-akhir ini yang disebabkan oleh peningkatan biaya energi yang tinggi serta permasalahan pasokan, telah memaksa sejumlah negara untuk mendukung biaya pinjaman serta menjauh dari langkah-langkah kebijakan ultra mudah yang diberlakukan sejak awal pandemi.

Saat ini pihak Federal Reserve belum melakukan pergerakan apapun, kecuali langkah pengurangan program pembelian obligasi di bulan ini, namun ekspektasi untuk menaikkan suku bunga diperkirakan akan dimulai di pertengahan tahun depan, dengan sejumlah pengamat yang memperkirakan dua kali kenaikan sebelum tahun 2023 mendatang.

Pasca kembali dinominasikan oleh Presiden AS Joe Biden, Powell berjanji untuk menggunakan alat kebijakan bank sentral untuk mendukung ekonomi dan pasar tenaga kerja yang kuat dan untuk mencegah inflasi yang lebih tinggi agar supaya hal tersebut tidak mengakar.

Hingga menjelang dibukanya perdagangan sesi Eropa siang hari ini, bursa saham Hong Kong masih memimpin kerugian di kawasan Asia dengan mencatat penurunan lebih dari 1%, menyusul perusahaan di sektor teknologi yang terpengaruh rekan-rekan mereka di AS yang bergerak di kisaran yang lebih rendah, disusul oleh kerugian yang dicatat oleh bursa Singapura, Seoul dan bursa Jakarta, meskipun pasar Sidney, Shanghai, Wellington dan Manila yang mencatat kenaikan tipis.

Selain itu terlepas dari aksi jual yang terjadi terhadap pasar ekuitas New York dan sebagian bursa Asia, para analis mengatakan bahwa pencalonan Powell diatas Lael Brainard, yang diajukan sebagai wakil ketua, nampaknya harus mendapatkan dukungan nyata, menyusul komentar George Ball dari perusahaan jasa keuangan Sanders Morris Harris bahwa pencalonan kembali Powell menghilangkan potensi negatif di pasar dan memberikan kepastian yang diharapkan oleh investor, dimana Powell dinilai dalam kondisi sehat, teruji, dihormati dan memahami pasar.

Beliau juga menambahkan bahwa saat pasar tidak mencatat kenaikan yang tajam maka menggantikan Powell di posisi Ketua The Fed berpotensi memicu tekanan penurunan yang besar terhadap saham karena investor tidak menyukai ketidakpastian serta hal yang tidak diketahui.

Akan tetapi Robert Schein selaku ekonom di Blanke Schein Wealth Management, mengatakan bahwa Ketua The Fed masih harus menyelesaikan pekerjaannya, sementara itu para investor tidak perlu mempertanyakan lahi mengenai siapa yang akan memimpin The Fed dalam beberapa tahun kedepan, namun kondisi dilema berikutnya bagi bank sentral adalah bagaimana menormalkan kebijakan moneter tanpa mengganggu kondisi pasar.(WD)

Related posts