Bursa Asia Jatuh Seiring Imbas Merosotnya Wall Street

Sejak pembukaan sesi perdagangan Asia di akhir pekan ini, mayoritas bursa saham di kawasan Asia dibuka di zona merah setelah bursa acuan Wall Street membukukan penurunan harian terbesarnya dalam hampir tiga bulan, akibat kekhawatiran baru mengenai ekonomi AS sehingga mengalihkan investor ke pasar obligasi dan mata uang safe haven.

Namun demikian para analis tidak mengharapkan adanya aksi jual di Asia seperti yang dialami oleh Wall Street yang didorong oleh koreksi tajam di saham sektor teknologi, karena investor menunggu data utama tenaga kerja AS yang akan dirilis pada malam hari nanti.

Ahli strategi valas senior di National Australian Bank, Rodrigo Catril mengatakan bahwa bursa Asia setidaknya dibuka di kisaran lebih rendah, meskipun demikian catril juga mencatat bahwa para investor akan menunggu indikasi lain dari AS mengenai apakah koreksi di sektor teknologi telah memiliki batas bawah dan sekaligus mengatakan bahwa laporan pekerjaan AS yang akan dirilis akan menjadi faktor penting setelah data yang sama dari ADP menunjukkan pembacaan yang lemah terhadap payroll di sektor swasta.

Bursa berjangka S&P/ASX 200 Australia kehilangan 1.95% di awal perdagangan, sementara indeks berjangka Nikkei 225 Jepang mencatat penurunan 0.32%, indeks saham Hangseng kehilangan 1.30% dan S&P 500 berjangka turun 0.64%.

Sementara Imre Speizer selaku kepala strategi di Westpac Selandia Baru, menilai bahwa pedagang obligasi dan mata uang juga cenderung untuk tetap menunggu sampai gambaran menjadi lebih jelas, karena para investor juga menunggu data penjualan ritel Australia bulan Juli yang diperkirakan akan menunjukkan peningkatan dari bulan sebelumnya, meskipun data tersebut tidak mungkin memiliki dampak yang banyak kecuali secara luas melampaui ekspektasi.

Kemerosotan yang melanda bursa saham Asia dipicu oleh pergerakan pasar saham AS yang mencatat penurunan persentase harian terbesarnya sejak 11 Juni untuk indeks Nasdaq dan S&P500 dan sejak 26 Juni untuk indeks Dow Jones, namun demikian indeks S&P dan Nasdaq masih bergerak dekat rekor tertingginya.

Saat ini persepsi para investor saham mengenai ekonomi AS telah mengalami pergeseran, setelah selama berhari-hari berada di zona hijau dalam data ekonomi global, namun pada hari Kamis kemarin investor menerima laporan gaji mingguan AS serta komentar suram dari Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans yang menyerukan lebih banyak stimulus untuk membantuk ekonomi memulihkan kekuatannya seperti sebelum terjadinya pandemi.(WD)

Related posts