Bursa Asia Masih Mengkhawatirkan Ketegangan AS-Cina

Bursa saham Asia mampu mempertahankan pergerakannya di kisaran yang ketat pada sesi perdagangan awal pekan ini, seiring kekhawatiran terhadap ketegangan yang semakin memanas antara AS dan Cina yang membebani sentimen, meskipun sejumlah tanda pemulihan yang terkait aktifitas industri di Cina dinilai telah membatasi penurunan.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang, bergerak diantara zona merah dan hijau namun tetap bertahan dalam kisaran kecil untuk tetap berada di bawah level puncak selama enam setengah bulan yang berhasil disentuh pada pekan lalu.

Perdagangan mayoritas bursa saham Asia diharapkan bergerak secara ringan dengan pasar Jepang dan Singapura ditutup terkait libur, sementara bursa saham Cina mulai melemah, seiring indeks saham blue-chip CSI300 mencatat penurunan dan indeks saham Hangseng Hong Kong turun sebesar 0.2%.

Sementara itu memburuknya hubungan antara AS-Cina sangat mempengaruhi sentimen, seiring data yang menunjukkan bahwa laju perlambatan deflasi di sektor pabrik Cina telah mendorong harapan pemulihan ekonomi di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Output industri Cina terus tumbuh ke level yang terlihat sebelum terjadinya pandemi yang melumpuhkan sebagian besar ekonomi Cina, karena laju permintaan yang terpendam, stimulus pemerintah serta ekspor yang secara mengejutkan tumbuh di laju yang tangguh sehingga mendorong pemulihan.

Saat ini para investor bersikap hati-hati setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif yang melarang aplikasi WeChat, yang dimiliki oleh raksasa teknologi Tencent asal Cina serta aplikasi TikTok dalam 45 hari kedepan, yang bersamaan waktunya saat trump mengumumkan sanksi terhadap 11 pejabat Cina dan Hong Kong yang dinilai telah mencederai kebebasan berekspresi di wilayah tersebut.

Selain itu pihak regulator AS telah merekomendasikan bahwa perusahaan luar negeri yang terdaftar di bursa AS harus tunduk terhadap tinjauan audit publik AS mulai tahun 2022 mendatang.

Tapas Strickland selaku direktur pasar & ekonomi di National Australia Bank, mengatakan bahwa pertanyaan yang lebih besar bagi pasar adalah apakah tindakan ini membahayakan pembicaraan perdagangan antara AS-Cina pada 15 Agustus mendatang dan pasar akan mencermati setiap tindakan pembalasan dari Cina.

Strickland juga menambahkan bahwa asumsi yang melanda pasar saat ini adalah bahwa Presiden Trump membutuhkan berhasilnya kesepakatan perdagangan fase satu, seperti yang dibutuhkan oleh Cina menjelang pemilu AS di bulan November, yang mana Presiden Trump akan menjalankan kebijakan garis keras kepada Cina sebagai bagian kampanye dalam pemilu mendatang.(WD)

Related posts