Bursa Ekuitas Global Memperpanjang Pemulihan

Fokus investor yang tertuju pada prospek pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi, telah memperpanjang pemulihan bursa ekuitas global dan terpantau menguat dari posisi terendahnya dalam empat pekan di sesi perdagangan hari ini.

Setidaknya hal ini mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap sikap hawkish yang diambil oleh Federal Reserve AS terkait kebijakan moneternya pada pertemuan kebijakan di pekan lalu.

Pergerakan saham di kawasan Eropa terlihat mulai mengarah pada laju kenaikannya selama sesi perdagangan Asia pagi tadi, menyusul pergerakan EuroSTOXX 50 berjangka yang mencatat kenaikan 0.4% serta FTSE Futures yang mencatat kenaikan hingga 0.3% di sesi yang sama.

Sementara itu indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang, mencatat kenaikan hingga 0.4% dan bergerak di atas posisi terendahnya dalam empat pekan, sekaligus mencatat kenaikan hingga 4% sepanjang tahun ini.

Kenaikan ini dipimpin oleh kinerja dari bursa saham Jepang dengan indeks saham Nikkei yang menguat 3.1%, sementara saham Korea Selatan meraih keuntungan 0.7%, bursa Australia naik 1.6% serta bursa saham Cina yang menguat hingga 0.8% hingga siang hari tadi.

Dalam sebuah catatannya salah seorang ahli strategi di JPMorgan mengatakan bahwa pertemuan FOMC di pekan lalu merupakan sebuah kejutan yang bersifat hawkish, namun hal tersebut tidak mengubah prospek mereka terhadap pasar.

Yang mana perdagangan reflasi mengalami penurunan tajam secara teknis, namun pihak JPMorgan memperkirakan perdagangan akan tetap dilanjutkan sehingga menilai bahwa langkah ini merupakan sebuah peluang untuk menambah eksposur terhadap ekuitas dan siklus komoditas.

Saat ini para investor terfokus pada pasar tenaga kerja AS, menyusul kinerja sektor tersebut yang kemungkinan akan mempengaruhi sikap kebijakan The Fed, dan dalam beberapa jam kedepan perhatian seluruh pelaku pasar akan tertuju pada testimoni Ketua The Fed di depan para anggota Kongres AS.

Pada pekan lalu The Fed telah menimbulkan tekanan bagi pasar saham global, dengan memberi sinyal adanya kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya serta berniat untuk mempertimbangkan penarikan stimulus moneternya dalam beberapa waktu kedepan.

Sikap ini dapat terlihat dari mayoritas pejabat The Fed yang merubah proyeksi mereka terhadap kenaikan suku bunga untuk pertama dari sebelumnya di 2024 menjadi di periode 2023, meskipun beberapa pejabat lainnya melihat bahwa suku bunga akan bergerak lebih tinggi di tahun depan.

Wacana The Fed untuk memulai normalisasi kebijakan didorong oleh inflasi yang mengalami peningkatan pesat, yang menandai sebuah dinamika yang membuat pasar keuangan berada dalam kondisi yang diliputi oleh kewaspadaan yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Namun demikian pada hari Senin kemarin, sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden Federal Reserve St Louis James Bullard serta Presiden Federal Reserve of Dallas, Robert Kaplan sepertinya telah mengurangi retorika hawkish mereka.(WD)

Related posts