Header Ads

Bursa Saham Asia Beringsut Naik

Bursa saham Asia mencatat kenaikan tipis di sesi perdagangan hari ini, meskipun bursa Wall Street mengalami penurunan namun mayoritas bursa Asia tetap berupaya untuk mendapatkan keuntungan di tengah kekhawatiran mengenai pemulihan ekonomi yang goyah sehingga membuat investor bersikap menunggu atau bahkan mencari perlindungan yang lebih aman di aset safe haven seperti mata uang Yen.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang tampaknya akan mengakhiri perdagangan pekan ini dengan mencatat kenaikan sekitar 1%, setelah selama dua pekan sebelumnya mengalami kerugian akibat sektor teknologi, sementara indeks saham Nikkei mencatat kenaikan tipis 0.1% sedangkan bursa saham Shanghai, Hong Kong dan Seoul naik antara 0.2% dan 0.4%.

Pada sesi perdagangan semalam bursa saham berjangka AS mengalami pelemahan dengan indeks S&P 500 berjangka yang mengalami penurunan 0.2%, meskipun indeks berjangka Nasdaq 100 berubah menjadi positif di pertengahan sesi perdagangan Asia yang bergerak 0.07% lebih tinggi.

Shane Oliver yang menjabat sebagai kepala ekonom AMP mengatakan bahwa masalah gambaran yang lebih besar saat ini adalah bahwa kondisi pasar terutama pertumbuhan dan saham teknologi telah berlangsung secara ketat hingga akhir Agustus yang menimbulkan kondisi pasar yang rentan.

Oliver juga menambahkam bahwa ada ketidakpastian menjelang pemilihan presiden AS serta masih adanya ketegangan antara AS dan Cina yang semakin mempengaruhi pasar dan ditambah dengan ketidakpastian mengenai bagaimana laju pemulihan akan dilanjutkan dengan tidak adanya lebih banyak stimulus di AS.

Indeks utama di bursa Wall Street turun dalam dua sesi beruntun di tengah kekecewaan bahwa The Fed tidak akan membuat komitmen pelonggaran moneter baru, serta ditambah data yang menunjukkan laju pemulihan di pasar tenaga kerja AS mengalami hambatan.

S&P 500 berakhir turun 0,84%, dan Nasdaq turun 1,27%, sehingga menempatkan indeks utama AS tersebut mencatat penurunan sekitar 10% dari rekor tertingginya yang dicapai pada awal bulan ini.

Berbeda dengan The Fed, Bank of England menjelaskan dalam semalam bahwa mereka bersika terbuka untuk pelonggaran agresif lebih lanjut dan mengamati dengan cermat pengambilan suku bunga negatif, sehingga nada dovish mengirim mata uang Poundsterling mengalami pelemahan tajam sebelum pulih terkait melemahnya Dollar di sesi perdagangan New York.(WD)

Related posts