Hong Kong Bersiap Menekan Defisit Anggaran

Dalam pidato anggarannya Menteri Keuangan Hong Kong, Paul Chan mengatakan bahwa pemrintah Hong Kong berencana untuk menjalankan anggaran dengan defisit yang jauh lebih rendah di tahun fiskal mendatang, menyusul perkiraan ekonomi yang akan pulih dari resesi saat ini yang tercatat sebagai resesi terpanjangnya.

Selama tahun 2019 lalu kota yang mendapat otonomi Cina tersebut mengalami gelombang protes disertai kekerasan di tengah ketegangan perdagangan antara AS-Cina, yang menjerumuskan pusat keuangan global tersebut ke dalam kondisi resesi, bahkan hal ini terjadi sebelum pandemi melanda dan saat ini harapan pemulihan Hong Kong bergantung pada vaksin virus corona.

Lebih lanjut Chan menyampaikan di depan para anggota legislator bahwa dirinya memperkirakan defisit anggaran untuk tahun mendatang akan mencapai sebesar HK$ 101.6 milliar ($ 13.10 milliar), yang mana ini lebih kecil dari rekor defisit sebesar HK$ 257.6 milliar di periode 2020/2021.

Selama ini langkah bantuan pandemi, termasuk pemberian uang tunai kepada penduduk dan keringanan pajak serta manfaat lainnya bagi sektor bisnis, telah menciptakan defisit yang jauh lebih dalam di tahun lalu dibandingkan yang direncanakan sebesar HK$ 139.1 milliar sebelumnya.

Lebih lanjut Chan mengatakan bahwa dengan epidemi yang saat ini masih berlanjut, maka ekonomi Hong Kong nampaknya belum mampu keluar dari resesi dan untuk tahun ini anggaran difokuskan untuk menstabilkan ekonomi serta meringankan beban bagi masyarakat.

Dengan demikian untuk mendukung pemulihan aktifitas konsumen dan bisnis, maka pemerintah setempat merencanakan pengeluaran di tahun mendatang diperuntukan bagi voucher bantuan senilai HK$ 5000 untuk penduduk, pemangkasan pajak laba dan gaji serta pembebasan biaya pendaftaran bisnis, termasuk dukungan untuk sektor pariwisata dan teknologi.

Sementara dari sisi penerimaan pendapatan, maka pemerintah akan menaikkan bea materai untuk perdagangan saham menjadi 0.13% dari 0.1% sebelumnya, untuk cadangan fiskal diperkirakan akan mencapai HK$ 902.7 milliar di akhir Maret 2021 dan akan turun menjadi HK$ 775.8 milliar pada akhir Maret 2026 mendatang.

Biasanya pemerintah otonomi Hong Kong menjalankan anggaran atau surplus yang seimbang, karena sistem mata uang yang dipatok telah mengikat kebijakan fiskal dengan kehati-hatian.

Pertumbuhan ekonomi Hong Kong diharapkan naik dari 3.5% menjadi 5.5% per tahun dari 2022 hingga 2025 mendatang, yang mana sebelumnya produk domestik bruto menyusut 6.1% di tahun 2020 lalu, sehingga mencatat kinerja terburuk sejak tahun 1962 silam.

Namun masih adanya ketegangan dan ketidakpastian hubungan antara AS-Cina terkait bagaimana undang-undang keamanan nasional yang mengubah kebijakan di tahun lalu akan tetap menjadi risiko yang signifikan bagi laju pemulihan, karena hal ini dapat mempengaruhi selera terhadap investasi non-Cina di pusat keuangan global tersebut.(WD)

Related posts