Huawei Mencatat Perlambatan Pertumbuhan Pendapatan Q1

Laju pertumbuhan pendapatan dari perusahaan raksasa teknologi asal Cina, Huawei Technologies mengalami perlambatan tajam di periode kuartal pertama, namun perusahaan pemasok peralatan telekomunikasi terkemuka dunia ini menyebut bahwa kinerja tersebut sebagai pencapaian yang tangguh mengingat tekanan dari AS dan dampak dari pandemi Covid-19.

Huawei mengatakan bahwa pendapatan mereka di kuartal pertama naik sekitar 1% menjadi 182.2 milliar Yuan ($25.72 milliar), dari pertumbuhan 39% yang diposting pada periode yang sama setahun sebelumnya.

Sementara untuk margin laba bersih selama periode tersebut dilaporkan menyempit menjadi 7.3% dari sekitar 8% di tahun lalu.

Namun Huawei yang juga dikenal sebagai produsen smartphine terbesar ketiga dunia, tidak mengungkapkan laba bersihnya, seiring pernyataan dari Wakil Presiden Huawei Victor Zhang yang mengatakan bahwa tingkat pertumbuhan telah mengalami perlambatan, namun ini juga merupakan kinerja yang tangguh dalam menghadapi daftar entitas serta pandemi virus yang tengah dihadapi oleh dunia saat ini.

Pada bulan Mei tahun lalu pihak Washington telah menempatkan Huawei ke dalam daftar hitam, dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional, serta membatasi penjualan barang-barang produk AS kepada pihak perusahaan tersebut.

Tentang dampak dari pandemi coronavirus, Zhang mengatakan sulit untuk mengukur apa yang akan terjadi dalam jangka pendek atau panjang, karena ia mempresentasikan hasil dari London daripada di Shenzen sebagai markas dari Huawei, untuk menandai 20 tahun berjalannya bisnis mereka di benua Eropa.

Selain itu Zhang juga mengabaikan kritik atas apa yang disebut “mask diplomacy”, seraya mengatakan bahwa pihaknya tidak memiliki motif tersembunyi di balik sumbangan jutaan topeng pelindung ke negara-negara di Eropa di tengah meningkatnya kasus virus corona di benua tersebut.

Para kritikus mengatakan langkah itu bisa menjadi taktik untuk memenangkan kontrak setelah UE membatasi peran Huawei dalam jaringan 5G untuk mengatasi risiko keamanan siber.

Akan tetapi pihak Huawei justru membantah bahwa peralatannya memiliki risiko dan hal ini disampaikan oleh Zhang bahwa pihaknya akan mendukung sejumlah negara yang mengalami kekurangan APD (Alat Pelindung Diri), dan ini bukan karena motif bisnis dari Huawei, karena hal tersebut merupakan tanggung jawab sosial dari perusahaan tersebut.

Huawei sendiri telah mengatakan bahwa tahun merupakan tahun yang paling sulit, seiring AS yang tidak menunjukkan tanda-tanda pelonggaran perdagangan, sementara di satu sisi mereka menekan sekutunya untuk mengecualikan perusahaan Cina dari jaringan 5G.(WD)

Related posts