Header Ads

Mayoritas Bursa Saham Asia Mencatat Penurunan

Setelah diawali dengan pembukaan sesi perdagangan yang cenderung hati-hati, mayoritas bursa saham di kawasan Asia Pasifik mencatat penurunan lonjakan kasus virus corona di seluruh wilayah selama akhir pekan serta ditambah varian virus Covid-19 Delta yang lebih ganas terus menyebar sehingga melukai sentimen investor.

Selain itu pelemahan mayoritas bursa saham di kawasan Asia Pasifik juga terpengaruh oleh adanya laporan yang mengatakan bahwa sejumlah bank sentral tengah mempertimbangkan untuk menarik langkah-langkah stimulus mereka, sehingga semakin membebani sentimen pasar menjadi lebih negatif.

Nikkei 225 Jepang terpantau turun tipis 0.15% dan KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan 2.6%, sementara ASX 200 Australia melemah 0.17% menyusul pemberlakukan lockdown terhadap kota Sidney guna menangani pandemi yang melibatkan varian baru Covid-19 Delta, di tengah investor yang menunggu Gubernur RBA Philip Lowe yang akan berpidato pada KTT Perbankan di Sidney esok hari.

Sementara itu Shanghai Composite China mencatat kenaikan tipis 0.02%, Shenzen Component mencatat kenaikan 0.60%, yang mana Cina akan merilis data PMI manufaktur dan non-manufaktur pada Rabu lusa, serta pidato dari Presiden Xi Jinping untuk menandai peringatan 100 tahun berdirinya Partai Komunis Cina di hari Kamis.

Namun pihak Hong Kong Exchanges and Clearing mengatakan bahwa sesi perdagangan pagi dari pasar sekuritas dan derivatif Hong Kong, termasuk perdagangan Stock Connect, mengalami penundaan seiring adanya peringatan mengenai bencana hujan badai Black, dan jika peringatan ini dibatalkan sebelum tengah hari maka pihak berwenang akan melanjutkan perdagangannya untuk sesi sore hari nanti.

Sebelumnya saham global mencatat kenaikan ke rekor tertingginya menyusul investor yang mencerna data inflasi AS di pekan sebelumnya, yang mana data Core PCI tumbuh lebih kecil dari perkiraan di angka 0.5% di tingkat bulanan dan 3.4% untuk tingkat tahunan.

Para investor juga memantau kemajuan perjanjian infrastruktur bipartisan AS dengan Presiden Joe Biden senilai $ 1.2 triliun selama delapan tahun kedepan, dimana analis ANZ mengatakan bahwa paket tersebut dapat meningkatkan permintaan secara signifikan, akibat dorongan dari investasi infrastruktur energi terbarukan serta kendaraan elektronik.

Sedangkan kekhawatiran terhadap sikap hawkish The Fed nampaknya juga telah memudar, yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan sentimen investor, bahkan saat beberapa investor tetap khawatir mengenai meningkatnya inflasi yang akan memaksa The Fed yang mengetatkan kebijakannya dan berdampak pada bank sentral lainnya.

Charles Henry Monchau selaku kepala investasi FlowBank SA mengatakan pada Bloomberg bahwa The Fed masih jauh dari kebijakan pengurangan pembelian obligasi, dan masih jauh dari kebijakan kenaikan suku bunga, namun pada titik tertentu dimana pasar melihat Fed jauh di belakang kurva, maka pasar tentu akan melihat adanya sejumlah penyesuaian terhadap panjang kurva.

Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa mungkin pasar tidak akan melihat puncak dari imbal hasil obligasi, namun dirinya tidak akan terkejut dengan adanya sejumlah penyesuaian dalam beberapa bulan mendatang, sehingga hal ini berpotensi menjadi alasan bagi pelaku pasar untuk mengambil sedikit keuntungan.(WD)

Related posts