Header Ads

Miris !! Kebijakan Pengetatan Covid-19 Buat Prospek Pertumbuhan Ekonomi China Semakin Tertekan

Ekonomi China semakin tertekan seiring dengan bertambahnya jumlah kasus Covid-19. Hal ini semakin diperparah dengan kebijakan penguncian yang membuat pertumbuhan ekonomi semakin jauh dari target. 

Perdana Menteri China Li Keqiang langsung mengadakan pertemuan pada tengah pekan kemarin. Ia bertemu dengan ribuan perwakilan dari pemerintah daerah, perusahaan milik negara dan perusahaan keuangan dan meminta mereka untuk berbuat lebih banyak untuk menstabilkan ekonomi. 

“Ekonomi dalam beberapa hal bernasib lebih buruk daripada tahun 2020 ketika pandemi pertama kali muncul dan mendesak lebih banyak upaya untuk mengurangi tingkat pengangguran yang melonjak,” kata Li.

Ini merupakan pertemuan lanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang telah mendapat tekanan besar sejak Maret akibat wabah Covid dan komitmen Presiden Xi Jinping terhadap Zero Covid, yang membutuhkan pembatasan ketat pada aktivitas di mana wabah terjadi. 

Li mengatakan bahwa data ekonomi untuk kuartal kedua akan dirilis secara akurat di tengah beberapa kecurigaan bahwa data resmi dapat diturunkan agar tampak tidak terlalu buruk. 

Peringatan Li memungkinkan China kehilangan target produk domestik bruto (PDB) dengan margin besar pada tahun ini karena negara ini masih fokus pada pengendalian ketat terhadap penularan Covid-19.

Berdasarkan survei Bloomberg, sejumlah ekonom memperkirakan ekonomi China akan tumbuh 4,5% tahun ini, jauh di bawah target pemerintah sekitar 5,5%.

Komentar bearish Li pada awalnya membebani saham, dengan Indeks CSI 300 turun sebanyak 1,1% di awal perdagangan. Meskipun kemudian menghapus kerugian perdagangan dengan kenaikan 0,6% pada tengah hari. 

Tak hanya itu, imbal hasil obligasi pemerintah untuk 10 tahun turut memperpanjang penurunan untuk hari keempat menjadi 2,75%. 

Untuk saat ini, pemerintah China hanya bisa melakukan yang terbaik di bawah kebijakan Zero Covid dan pada akhirnya tergantung pada transmisi virus.

Perdana menteri menyoroti kinerja ekonomi yang lemah, dengan mengatakan indikator ekonomi di China telah turun secara signifikan, dan kesulitan dalam beberapa aspek sampai batas tertentu bahkan lebih besar dari masa epidemi menghantam ekonomi pada 2020 lalu. (Ysl)

Related posts